Sobat #SadarRisiko pernah dengar olahraga padel?
Padel adalah perpaduan antara tenis dan squash yang mudah dimainkan, menyenangkan, dan punya sisi sosial yang kuat. Tak heran, padel makin popular di berbagai negara – termasuk di Indonesia, karena bisa melatih fisik sambil bersosialisasi dengan cara yang unik dan mengasyikkan.
Padel biasanya dimainkan berpasangan di lapangan tertutup berukuran 2/3 ukuran lapangan teknis. Raketnya pun lebih kecil tanpa senar, dengan bola mirip bola teknis tapi tekanannya lebih rendah.
Dibandingkan dengan tenis, olahraga padel tidak memerlukan kekuatan dan daya tahan seintens itu. Karena tidak terlalu bergantung pada kekuatan fisik dalam bermainnya, padel dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia dan tingkat kebugaran.
Manfaat padel mencakup manfaat fisik sekaligus mental dan sosial seperti:
Meskipun demikian, Sobat #SadarRisiko tetap perlu mewaspadai beberapa risiko, seperti cedera radang siku (tennis elbow) akibat gerakan berulang saat mengayun raket. Dapat juga terjadi cedera bahu akibat adanya pukulan overhead (misalnya gerakan smes), dengan intensitas ringan hingga robekan otot yang lebih serius.
Olahraga padel juga dapat menyebabkan terkilirnya pergelangan kaki akibat gerakan dinamis, termasuk berlari mendadak, perubahan arah yang cepat, dan gerakan yang berulang-ulang. Risiko lain mencakup cedera punggung bawah akibat memutar tubuh saat memukul bola, terutama jika postur bermain tidak benar, cedera lutut karena berlutut secara mendadak serta pivot yang berulang yang meningkatkan risiko cedera ligamen atau meniskus, serta risiko dehidrasi dan kelelahan.
Agar tetap aman dan nyaman dalam bermain padel, Sobat #SadarRisiko bisa terapkan langkah-langkah berikut:
Padel adalah pilihan olahraga menyenangkan yang menggabungkan kebugaran fisik, interaksi sosial, dan elemen permainan strategi. Kuncinya, pahami manfaatnya, kenali risikonya, dan terapkan langkah #SadarRisiko agar bisa #KurangiRisiko dengan bijak.
Adakah olahraga lain yang Sobat #SadarRisiko anggap seru dan menyenangkan? Jangan lupa tetap perhatikan risikonya, ya. Ikuti media sosial MASINDO agar bisa mendapatkan informasi pengurangan risiko lainnya di kehidupan sehari-hari.
Polusi udara adalah salah satu masalah lingkungan mendesak yang dihadapi kota besar, seperti Jakarta. Hampir setiap hari, kualitas udara di Jakarta melampaui ambang batas Particulate Matter (PM) yang ditetapkan oleh WHO hingga 8 sampai 12 kali lipat. Tidak heran, Jakarta nyaris selalu menduduki peringkat 15 besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.
Digital fatigue merupakan kondisi kelelahan mental dan fisik yang timbul akibat terlalu lama terpapar perangkat digital. Gejala yang sering muncul, antara lain, mata lelah dan kering, sakit kepala yang berkelanjutan serta sulit berkonsentrasi. Rasa kewalahan dengan notifikasi yang terus masuk juga dapat menimbulkan rasa cemas, hingga kesulitan beristirahat dan tidur di malam hari.
Tak bisa dipungkiri bahwa polusi udara jadi kata kunci yang paling banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, kualitas udara di Jakarta dan wilayah sekitarnya berada di zona merah selama beberapa bulan terakhir.