Coba perhatikan kembali lamanya penggunaan perangkat digital kita. Berapa lama waktu yang dihabiskan untuk mengakses media sosial, bermain game, atau menonton tayangan secara streaming? Tanpa disadari, kebiasaan sederhana seperti mengakses media sosial dapat berkembang menjadi pola yang berlebihan dan berdampak pada kualitas hidup kita sehari-hari.
Aktivitas online pada dasarnya memberikan efek menyenangkan karena meningkatkan dopamin, zat kimia di otak yang berperan dalam menciptakan rasa senang dan motivasi. Dalam kadar yang wajar, hal ini berguna untuk mendukung suasana relaksasi diri.
Namun, ketika penggunaannya menjadi berlebihan dan mengganggu produktivitas keseharian, kondisi ini perlu mendapatkan perhatian kita semua, karena dapat menyebabkan terjadinya risiko kecanduan digital.
Salah satu pendekatan yang dapat menyeimbangkan kembali keadaan otak kita adalah dopamine detox yaitu mengelola dan membatasi paparan stimulasi berlebih agar tidak berkembang menjadi kebiasaan yang merugikan.
Menggulir media sosial tanpa henti (doomscrolling), bermain game dalam durasi panjang, atau menonton serial secara maraton (binge watching) dapat memberikan kepuasan instan. Tetapi, meskipun pada awalnya mampu memperbaiki suasana hati, kebiasaan ini berpotensi menimbulkan berbagai risiko, antara lain:
Dopamine detox bukan berarti menghilangkan seluruh sumber kesenangan dari kegiatan online, melainkan mengatur ulang pola konsumsi stimulasi agar lebih seimbang. Dengan mengurangi paparan berlebih, otak memiliki kesempatan untuk “menyetel ulang” sensitivitasnya terhadap dopamin.
Manfaat yang dapat dirasakan setelah menjalankan dopamine detox antara lain, meningkatkan fokus dan kemampuan berkonsentrasi, mengurangi kecemasan (anxiety), membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rileks serta meningkatkan kualitas tidur.
Bagaimana sebaiknya memulai Dopamine detox?
Kita dapat melakukannya secara bertahap:
Pada akhirnya, pengelolaan dopamin merupakan bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup di tengah arus digital yang semakin intens. Paparan stimulasi yang berlebihan justru dapat menurunkan kualitas fokus, produktivitas, dan kesejahteraan mental.
Penting untuk kita #SadarRisiko dan mulai mengambil langkah #KurangiRisiko untuk mengatur kebiasaan digital sehari-hari. Dengan membatasi secara bijak dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih berarti, kita akan membangun pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.
Masyarakat, khususnya mereka yang berusia di atas 18 tahun, memiliki peran krusial dalam menciptakan perubahan positif sebagai upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Partisipasi mereka mampu mengurangi risiko yang dapat menghambat kemajuan di berbagai aspek kehidupan. Hal inilah yang membuat Masyarakat Sadar Risiko (MASINDO) menginisiasi acara talkshow bertajuk “Unleashing Youth Power in Shaping the Future: Partisipasi Generasi Muda & Pembuatan Kebijakan Berbasis Sadar Risiko” sebagai upaya untuk mendorong masyarakat terlibat aktif dalam pembuatan kebijakan publik yang tepat.
Pada tahun 2045, Indonesia akan berumur genap 100 tahun. Pada tahun 2030, Indonesia diproyeksikan memiliki bonus demografi atau penduduk usia produktif mencapai 68.3 persen dari total populasi, yang kemudian disebut dengan Generasi Emas. Menurut pemerintah, Generasi Emas ini merupakan nakhoda yang mengarahkan kemajuan atau masa depan bangsa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi negara yang maju.
Di tengah dinamika dan keberagaman Indonesia, kesadaran akan risiko menjadi kunci penting demi mendukung pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan bersama. Bersama Dimas Syailendra R., Ketua Masyarakat Sadar Risiko (MASINDO), kami mengajak Sobat #SadarRisiko untuk mengubah cara pandang terhadap risiko, melalui berbagai inisiatif dan kolaborasi lintas sektoral MASINDO yang bertujuan untuk menanamkan budaya #SadarRisiko di setiap lapisan masyarakat.