Pemerintah dinilai perlu terlibat aktif dalam memperluas akses informasi akurat terkait konsep pengurangan bahaya tembakau melalui penggunaan produk tembakau alternatif, yang berbasis kajian ilmiah. Saat ini, pemahaman masyarakat terhadap konsep pengurangan bahaya tembakau dengan beralih ke produk tembakau alternatif masih relatif minim karena akses informasi yang sangat terbatas.
Ketua Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) Dimas Syailendra Ranadireksa menyebutkan berbagai hasil kajian ilmiah yang dilakukan, baik di dalam maupun luar negeri, membuktikan bahwa produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan, rokok elektrik, maupun kantong nikotin, sudah menerapkan konsep pengurangan risiko.
Produk-produk tersebut dikatakan mampu meminimalisasi risiko hingga 90 - 95 persen dibandingkan dengan rokok.
“Sangat disayangkan informasi mengenai produk tembakau alternatif yang telah teruji menerapkan konsep pengurangan risiko melalui kajian ilmiah ini belum tersebar secara luas bagi publik," kata dia dalam keterangannya, Sabtu 16 Juli 2022. "Perlu adanya partisipasi dari pemerintah dalam mendistribusikan informasi akurat ini agar masyarakat, terutama perokok dewasa, mengetahui adanya produk yang lebih rendah risiko untuk membantu mereka beralih dari kebiasaannya," tambah dia.
Menurut Dimas, keterlibatan pemerintah dalam mendorong informasi hingga pemanfaatan produk tembakau alternatif sebagai solusi sangat mendesak. Sebab, prevalensi merokok di Indonesia masih tinggi meskipun sejumlah strategi telah dijalankan oleh pemerintah. Selain itu, partisipasi pemerintah secara langsung dalam penyebaran informasi akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk tembakau alternatif sebagai produk yang teruji menerapkan konsep pengurangan risiko.
Dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat, keinginan perokok dewasa yang sulit berhenti merokok untuk beralih ke produk yang lebih rendah risiko dapat terwujud. “Pemerintah bisa memulainya dengan memperkuat kepercayaannya sendiri terlebih dahulu lewat pembuktian fakta ilmiah terhadap produk tembakau alternatif. Namun, perlu diingat bahwa pemanfaatan produk ini hanya untuk mengurangi risiko dan dikhususkan bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari kebiasaanya,” jelasnya.
Senada dengan Dimas, Ketua Aliansi Vaper Indonesia (AVI) Johan Sumantri menilai minat hingga upaya pemerintah untuk melakukan sosialisasi terkait keberadaan dan fakta terkait produk tembakau alternatif masih kurang. Hal ini berpotensi menyulitkan para perokok dewasa sehingga mereka semakin jauh dari produk tembakau alternatif yang bisa menjadi solusi untuk mengurangi risiko akibat konsumsi rokok. “Prevalensi merokok akan sulit ditekan,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal ini, Johan pun memiliki saran yang sama dengan Dimas, yakni agar pemerintah terbuka melakukan studi atas produk-produk tembakau alternatif. Dengan demikian, pemerintah bisa mendapatkan gambaran jelas terkait manfaat dan risiko yang ada dalam produk ini. “Jika ini tidak dilakukan, mustahil pembatasan bisa dihilangkan," pungkas Johan Sumantri.
Meski produksi tembakau alternatif dinilai lebih rendah risiko ketimbang rokok, namun tidak merokok sama sekali, tentu akan jauh lebih baik untuk menjaga kesehatan dan mencegah timbulnya berbagai penyakit.
Sumber : https://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/1498276-pemerintah-didesak-terlibat-aktif-turunkan-prevalensi-merokok
Lebih dari sekedar gimmick yang bersifat jangka pendek, Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) mencoba untuk memberi paparan terkait isu bahaya tembakau serta pilihan alternatif yang lebih baik, yang saat ini dapat diakses bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti dari kebiasaannya.
Sobat #SadarRisiko, di negara tropis seperti Indonesia, Air Conditioning (AC) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, terutama masyarakat perkotaan. Namun, tahukah kamu bahwa terlalu lama berada dalam ruangan ber-AC juga memiliki risiko?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 629 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah di Indonesia sepanjang tahun 2024. Tahukah #SobatSadarRisiko bahwa beberapa kebiasaan kecil yang tampaknya sepele bisa meningkatkan risiko kebakaran? Mari kita bahas agar lebih #SadarRisiko dan bisa #KurangiRisiko kebakaran di sekitar kita.