Kembali Upaya Sadar Risiko

Orang Indonesia Malas Jalan Kaki? Apa Saja Risikonya?

Mengapa kalau kita lagi traveling ke luar negeri bisa berjalan kaki kemana-mana dengan mudahnya, tetapi ketika di Indonesia, berjalan jarak dekat saja terasa berat sekali? Fenomena ini ternyata ada benarnya. Berdasarkan riset Stanford University yang melibatkan 717.627 orang dari 111 negara, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling malas berjalan kaki di dunia.

Para peneliti Stanford University memantau jumlah langkah per hari melalui data aktivitas ponsel dan menemukan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya berjalan kaki 3.513 langkah setiap harinya. Ini merupakan angka terendah di dunia, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 5.000 langkah per hari.

Sebagai perbandingan, Hong Kong dinobatkan sebagai negara dengan penduduk paling aktif berjalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari dan negara tetangga seperti Malaysia (3.963 langkah) dan Filipina (4.008 langkah) ternyata menempati peringkat yang masih lebih baik dari Indonesia.

Jika diteliti lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi kita mengapa orang Indonesia menghindari untuk berjalan kaki:

  1. Fasilitas untuk Pejalan Kaki yang Kurang Memadai Buruk: salah satu alasan utama adalah fasilitas pejalan kaki yang kurang memadai, termasuk trotoar yang sempit, rusak, atau bahkan tidak ada sama sekali. Sering kali trotoar malah dipakai untuk parkir motor, jualan pedagang kaki lima, atau bahkan dilintasi motor. Masalah keamanan saat menyeberang jalan karena minimnya tempat penyeberangan juga membuat orang Indonesia semakin malas berjalan kaki.

  2. Cuaca yang Panas dan Menyengat: cuaca Indonesia yang panas dan lembab membuat berjalan kaki terasa gerah, mudah berkeringat, dan gampang dehidrasi. Tapi beberapa negara tropis lain dengan iklim serupa ternyata telah merubah kebiasaan mereka meski beriklim sama jadi faktor cuaca sebenarnya dapat diatasi.

  3. Kebiasaan Menggunakan Kendaraan Motor atau Mobil Bermotor: kebiasaan menggunakan motor atau mobil bahkan untuk jarak dekat sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tapi perlu diketahui bahwapadahal hal kebiasaan ini bisa mencemari lingkungan dan udara karena asap hasil pembakaran bensin atau solar yang mengandung zat berbahaya, salah satunya termasuk TAR yang dapat mencemari udara yang kita hirup setiap hari.

Image

Kurangnya aktivitas fisik seperti jalan kaki tersebut ternyata membuat kita semakin rentan terhadap risiko.

Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar Kemenkes, prevalensi obesitas di Indonesia naik drastis dari 10,5% pada 2007 menjadi 21,8% pada 2018. Ini menjadi cermin nyata dari dampak minimnya aktivitas fisik masyarakat. Kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe-2.

Selain itu, kekuatan otot dan kepadatan tulang juga dapat berkurang dan dapat membuat kita lebih rentan mengalami cedera dan osteoporosis di usia tua. Kurang aktivitas fisik juga dapat berdampak pada kesehatan mental serta kualitas tidur, karena aktivitas fisik turut membantu mengurangi stres, memperbaiki mood, dan membantu relaksasi saat waktunya tidur.

Meskipun ada banyak tantangan, kita tetap bisa #KurangiRisiko dengan mulai membiasakan diri untuk lebih banyak jalan kaki.

Mulailah dengan jarak dekat. Jika tujuan kita kurang dari 500 meter, cobalah untuk berjalan kaki saja, seperti ketika ke warung, minimarket, tempat ibadah di sekitar rumah atau tempat kerja kita.

Kita juga bisa memanfaatkan waktu di pagi dan sore hari saat udara lebih sejuk, untuk memulai membiasakan diri dan memperbanyak berjalan kaki.

Kalau terpaksa menggunakan kendaraan, coba untuk mencari parkir yang sedikit lebih jauh dan lanjutkan dengan berjalan ke tujuan. Kita juga bisa membiasakan diri untuk menggunakan tangga daripada eskalator atau lift di kantor dan pusat perbelanjaan, terutama untuk jarak yang tidak terlalu tinggi semisal dua atau tiga tingkat saja.

Indonesia mungkin mendapat predikat negara paling malas jalan kaki saat ini, tetapi ini bukan berarti kita tidak bisa berubah. Dengan memahami faktor-faktor penyebabnya dan #SadarRisiko terhadap dampak kesehatan, kita bisa mulai membuat perubahan kecil dalam rutinitas harian.

Artikel Lainnya

Wawancara Ketua MASINDO Dimas Syailendra Ranadireksa

Upaya Sadar Risiko

Wawancara Ketua MASINDO Dimas Syailendra Ranadireksa

Pada tahun 2045, Indonesia akan berumur genap 100 tahun. Pada tahun 2030, Indonesia diproyeksikan memiliki bonus demografi atau penduduk usia produktif mencapai 68.3 persen dari total populasi, yang kemudian disebut dengan Generasi Emas. Menurut pemerintah, Generasi Emas ini merupakan nakhoda yang mengarahkan kemajuan atau masa depan bangsa untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045, yaitu menjadi negara yang maju. 

#HariSadarRisiko Photo Challenge with MASINDO

Upaya Sadar Risiko

#HariSadarRisiko Photo Challenge with MASINDO

Abadikan momenmu menjaga kesehatan mental agar tetap produktif di lingkungan kerja, dan ikuti #HariSadarRisiko Photo Challenge with MASINDO

Awas! Salah Pilih Skincare Meningkatkan Risiko Kesehatan Kulit

Upaya Sadar Risiko

Awas! Salah Pilih Skincare Meningkatkan Risiko Kesehatan Kulit

Banyak yang belum tahu bahwa secara massa, kulit merupakan organ terbesar pada tubuh kita. Ketika menggunakan produk yang salah, alih-alih merawat kulit dan mendapatkan penampilan prima, kita berpotensi mengalami bisa masalah yang serius bagi kesehatan.