Mengapa kalau kita lagi traveling ke luar negeri bisa berjalan kaki kemana-mana dengan mudahnya, tetapi ketika di Indonesia, berjalan jarak dekat saja terasa berat sekali? Fenomena ini ternyata ada benarnya. Berdasarkan riset Stanford University yang melibatkan 717.627 orang dari 111 negara, Indonesia dinobatkan sebagai negara paling malas berjalan kaki di dunia.
Para peneliti Stanford University memantau jumlah langkah per hari melalui data aktivitas ponsel dan menemukan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya berjalan kaki 3.513 langkah setiap harinya. Ini merupakan angka terendah di dunia, jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 5.000 langkah per hari.
Sebagai perbandingan, Hong Kong dinobatkan sebagai negara dengan penduduk paling aktif berjalan kaki dengan rata-rata 6.880 langkah per hari dan negara tetangga seperti Malaysia (3.963 langkah) dan Filipina (4.008 langkah) ternyata menempati peringkat yang masih lebih baik dari Indonesia.
Jika diteliti lebih lanjut, sebenarnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi kitamengapa orang Indonesia menghindari untuk berjalan kaki:
Kurangnya aktivitas fisik seperti jalan kaki tersebut ternyata membuat kita semakin rentan terhadap risiko.
Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar Kemenkes, prevalensi obesitas di Indonesia naik drastis dari 10,5% pada 2007 menjadi 21,8% pada 2018. Ini menjadi cermin nyata dari dampak minimnya aktivitas fisik masyarakat. Kurang aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes tipe-2.
Selain itu, kekuatan otot dan kepadatan tulang juga dapat berkurang dan dapat membuat kita lebih rentan mengalami cedera dan osteoporosis di usia tua. Kurang aktivitas fisik juga dapat berdampak pada kesehatan mental serta kualitas tidur, karena aktivitas fisik turut membantu mengurangi stres, memperbaiki mood, dan membantu relaksasi saat waktunya tidur.
Meskipun ada banyak tantangan, kita tetap bisa #KurangiRisiko dengan mulai membiasakan diri untuk lebih banyak jalan kaki.
Mulailah dengan jarak dekat. Jika tujuan kita kurang dari 500 meter, cobalah untuk berjalan kaki saja, seperti ketika ke warung, minimarket, tempat ibadah di sekitar rumah atau tempat kerja kita.
Kita juga bisa memanfaatkan waktu di pagi dan sore hari saat udara lebih sejuk, untuk memulai membiasakan diri dan memperbanyak berjalan kaki.
Kalau terpaksa menggunakan kendaraan, coba untuk mencari parkir yang sedikit lebih jauh dan lanjutkan dengan berjalan ke tujuan. Kita juga bisa membiasakan diri untuk menggunakan tangga daripada eskalator atau lift di kantor dan pusat perbelanjaan, terutama untuk jarak yang tidak terlalu tinggi semisal dua atau tiga tingkat saja.
Indonesia mungkin mendapat predikat negara paling malas jalan kaki saat ini, tetapi ini bukan berarti kita tidak bisa berubah. Dengan memahami faktor-faktor penyebabnya dan #SadarRisiko terhadap dampak kesehatan, kita bisa mulai membuat perubahan kecil dalam rutinitas harian.
Lebih dari sekedar gimmick yang bersifat jangka pendek, Masyarakat Sadar Risiko Indonesia (MASINDO) mencoba untuk memberi paparan terkait isu bahaya tembakau serta pilihan alternatif yang lebih baik, yang saat ini dapat diakses bagi perokok dewasa yang kesulitan berhenti dari kebiasaannya.
Sobat #SadarRisiko, pernahkah merasa tidak pede akibat bau asap yang menempel di tubuh dan pakaian? Penyebab utamanya adalah TAR, zat hasil proses pembakaran yang ada dalam asap. TAR mudah menempel pada rambut, pakaian, dan permukaan lain—dan lebih parahnya, bersifat karsinogenik serta dapat mengendap di paru-paru jika terhirup terus-menerus.
Kesadaran mengenai bahaya kebiasaan merokok di tengah masyarakat semakin meningkat, termasuk di antara para perokok. Bahkan, banyak perokok yang ingin sekali berhenti merokok, tetapi menemui kesulitan atau malah tidak tahu caranya sehingga kebiasaan merokok terulang kembali.