Kembali Upaya Sadar Risiko

Mengurangi Risiko Sakit Perut Saat Berpuasa

Memasuki bulan suci Ramadan, banyak orang mengalami keluhan sakit perut saat berpuasa, termasuk GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) atau penyakit asam lambung. Kondisi ini seringkali membuat ibadah puasa menjadi tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Apa sebenarnya penyebab sakit perut selama puasa dan bagaimana cara mengurangi risikonya?

GERD adalah kondisi naiknya asam lambung hingga ke kerongkongan yang menyebabkan sensasi terbakar di dada, nyeri pada ulu hati, mual, dan muntah.

Kondisi ini dapat terjadi selama puasa karena perut kosong dalam waktu lama disertai perubahan pola dan jam makan.

Meningkatnya risiko GERD saat berpuasa juga dapat disebabkan oleh:

  • Melewatkan sahur dan makan berlebihan saat berbuka puasa;
  • Mengonsumsi makanan asam, pedas, dan berminyak yang membuat lambung iritasi;
  • Kurang minum air putih yang dapat memicu dehidrasi;
  • Overthinking yang menyebabkan kecemasan dan stres.

Perut yang kosong tanpa makanan dan minuman lebih dari 12 jam dapat menyebabkan produksi asam lambung meningkat, terlebih jika pola makan tidak teratur serta makanan tertentu memicunya.

Sebaliknya, jika dilakukan dengan benar, berbagai penelitian justru menunjukkan bahwa berpuasa dapat meringankan gejala GERD.

Image

Jadi sebaiknya, bagaimana kita #KurangiRisiko GERD saat berpuasa? Berikut beberapa langkah yang
perlu diingat:

  1. Jangan lewatkan sahur dan pilih makanan yang tepat
    Sahur sangat penting sebagai bekal nutrisi dan energi selama berpuasa. Pilih makanan yang mudah dicerna, kaya serat, dan mengandung protein seperti oatmeal, roti gandum, telur rebus, serta buah-buahan. Hindari makanan berat, terlalu pedas, atau berlemak tinggi.

  2. Berbuka secara bertahap dan bijak memilih menu
    Saat berbuka, jangan langsung makan dalam porsi besar. Mulailah dengan kurma dan air putih, lalu lanjutkan dengan makanan ringan seperti buah, ubi atau singkong rebus, serta bubur kacang hijau dengan santan secukupnya. Pilihlah sumber karbohidrat kompleks yang mudah dicerna sebagai prinsip utama menu berbuka dan setelah perut menyesuaikan diri, barulah makan dengan porsi wajar. Hindari makanan berminyak, digoreng, dan terlalu pedas karena dapat memicu produksi asam lambung.

  3. Cukupi kebutuhan cairan dan atur pola makan
    Untuk memenuhi kebutuhan cairan sekitar 8–10 gelas per hari, minumlah 2 gelas saat sahur dan 2–3 saat berbuka dan secara bertahap, penuhi kekurangannya sebelum tidur. Air putih merupakan pilihan terbaik bagi penderita asam lambung. Hindari minuman berkarbonasi serta yang mengandung kafein seperti kopi dan teh karena dapat merangsang produksi asam lambung. Selain itu, makanlah dengan pelan dan secukupnya. Mengunyah makanan hingga halus membantu kerja sistem pencernaan dan mengurangi beban lambung.

  4. Atur waktu istirahat dan kelola stres
    Hindari langsung berbaring setelah makan dan beri jeda sekitar 3 jam sebelum tidur. Jika sering mengalami refluks saat tidur, gunakan bantal tambahan agar posisi kepala lebih tinggi dari perut. Kelola stres dan kecemasan dengan baik karena faktor emosional juga dapat memicu gejala GERD. Istirahat yang cukup dan teknik relaksasi dapat membantu menjaga kondisi lambung tetap stabil selama puasa.

  5. Konsultasikan dengan dokter bila perlu
    Efek puasa terhadap GERD berbeda pada setiap orang. Kalau kamu sudah memiliki kondisi GERD, konsultasikan dengan dokter mengenai jadwal dan jenis obat yang dapat dikonsumsi saat sahur atau buka puasa. Bila gejala tetap berat meski telah menjalankan langkah-langkah di atas, segera periksakan diri untuk penyesuaian terapi.

Menjadikan Puasa sebagai Momentum Perbaikan

Puasa bisa menjadi momentum untuk memperbaiki gaya hidup dan pola makan yang lebih sehat.

Dengan #KurangiRisiko yang tepat, kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan nyaman tanpa khawatir GERD kambuh.

Kuncinya adalah #SadarRisiko terhadap hal-hal yang dapat memicu GERD dan menerapkan pola hidup sehat secara konsisten.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga kesempatan untuk melatih disiplin dan memperbaiki kesehatan pencernaan secara menyeluruh.

Semoga puasa kita lancar, jangan lupa untuk selalu #SadarRisiko!

Share artikel ini kepada teman dan keluarga yang juga mengalami masalah asam lambung supaya mereka bisa puasa dengan nyaman!

Artikel Lainnya

Waspada Risiko di Balik Tren Matcha: Kenali Batas Aman Konsumsi

Upaya Sadar Risiko

Waspada Risiko di Balik Tren Matcha: Kenali Batas Aman Konsumsi

Minuman hijau pekat ini memang digemari banyak orang karena rasanya yang unik sekaligus dikenal sebagai alternatif pengganti kopi. Matcha sering dicari bagi mereka yang ingin mendapatkan dorongan energi tambahan – apalagi tren minuman matcha kekinian makin mudah dijumpai di mana-mana. Di balik manfaat minuman matcha bagi kesehatan, tahukah Sobat #SadarRisiko akan risiko-risiko yang bisa timbul jika matcha diminum berlebihan?

Jaga Kesehatan Sistem Pencernaan untuk Mengurangi Gangguan Metabolisme

Pendekatan Pengurangan Bahaya

Jaga Kesehatan Sistem Pencernaan untuk Mengurangi Gangguan Metabolisme

Tahukah kamu bahwa sistem pencernaan berperan penting bagi metabolisme tubuh? Tidak hanya bertugas untuk menyerap nutrisi, sistem pencernaan juga berperan dalam menjaga daya tahan tubuh, lho!

Gangguan Tidur dan Risikonya: Kenali Bahayanya

Upaya Sadar Risiko

Gangguan Tidur dan Risikonya: Kenali Bahayanya

Hai Sobat #SadarRisiko! Masalah kesulitan tidur dikarenakan pekerjaan, bermain game atau banyak pikiran turut mengganggu kualitas tidur dan dapat menyebabkan risiko lebih luas secara jangka panjang. Kurangnya tidur secara kuantitas maupun kualitas sudah pasti akan menyebabkan kita kelelahan keesokan harinya. Namun, dampaknya bisa jauh lebih serius jika hal ini menjadi kebiasaan jangka panjang.